Ketika membuka halaman trading kripto, pengguna biasanya menemukan dua jenis order paling mendasar: market order dan limit order. Keduanya dapat digunakan untuk membeli atau menjual aset, tetapi memiliki prioritas, mekanisme eksekusi, dan risiko yang berbeda.
Market order memprioritaskan kecepatan eksekusi. Trader meminta sistem membeli atau menjual aset menggunakan harga terbaik yang tersedia pada order book ketika transaksi diproses. Harga akhirnya tidak ditentukan sendiri oleh trader dan dapat berbeda dari angka terakhir yang terlihat pada layar.
Limit order memprioritaskan kontrol harga. Trader menentukan harga maksimum yang bersedia dibayar ketika membeli atau harga minimum yang bersedia diterima ketika menjual. Konsekuensinya, order dapat tertunda, hanya terisi sebagian, atau tidak terisi sama sekali.
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi pemilihan jenis order dapat memengaruhi average execution price, slippage, trading fee, dan keberhasilan sebuah trading plan. Dampaknya semakin besar ketika market sedang volatil, liquidity rendah, spread melebar, atau nominal order relatif besar dibandingkan kedalaman order book.
Karena itu, memahami market order vs limit order bukan sekadar mengetahui letak tombol Buy dan Sell. Trader perlu mengetahui bagaimana matching engine bekerja, dari mana harga transaksi berasal, bagaimana liquidity tersedia, serta trade-off antara kepastian harga dan kepastian eksekusi.
Outline Artikel
- Apa itu order dalam trading kripto?
- Bagaimana order book bekerja?
- Apa itu market order?
- Bagaimana market order dieksekusi?
- Apa itu slippage?
- Kelebihan dan kekurangan market order
- Apa itu limit order?
- Bagaimana limit buy dan limit sell bekerja?
- Apa itu partial fill?
- Kelebihan dan kekurangan limit order
- Perbedaan market order vs limit order
- Hubungan liquidity, spread, maker, dan taker
- Kapan market order lebih cocok?
- Kapan limit order lebih cocok?
- Kesalahan umum pemula
- Cara menggabungkan kedua jenis order
- Checklist sebelum memasang order
- Kesimpulan
Key Takeaways
Beberapa hal utama yang perlu dipahami:
- Market order memprioritaskan eksekusi, bukan harga.
- Limit order memprioritaskan harga, tetapi tidak menjamin order akan terisi.
- Market order menggunakan liquidity yang tersedia pada order book sehingga umumnya berperan sebagai taker.
- Limit order dapat menjadi maker atau taker, tergantung apakah order tersebut langsung bertemu dengan order yang tersedia.
- Market order dapat mengalami slippage ketika liquidity rendah, spread lebar, market volatil, atau ukuran order besar.
- Harga terakhir yang terlihat pada layar tidak menjamin seluruh market order dieksekusi pada harga tersebut.
- Limit order hanya dapat dieksekusi pada harga yang ditentukan atau harga yang lebih menguntungkan bagi trader.
- Harga menyentuh limit price belum tentu membuat seluruh order terisi karena terdapat liquidity dan antrean order.
- Market order maupun limit order dapat mengalami partial fill.
- Market order cocok ketika kecepatan masuk atau keluar lebih penting daripada selisih harga kecil.
- Limit order cocok ketika trader memiliki area entry atau exit yang spesifik.
- Tidak ada jenis order yang selalu paling baik untuk seluruh kondisi market.
- MEXC menyediakan panduan penggunaan market order dan limit order pada Spot trading.
Apa Itu Order dalam Trading Kripto?
Order adalah instruksi yang diberikan trader kepada exchange untuk membeli atau menjual aset berdasarkan parameter tertentu. Instruksi tersebut biasanya mencakup aset, arah transaksi, jumlah, harga, dan jenis order yang digunakan.
Sebagai contoh, pada pair BTC/USDT, BTC merupakan base asset dan USDT merupakan quote asset. Buy berarti membeli BTC menggunakan USDT, sedangkan sell berarti menjual BTC untuk memperoleh USDT.
Ketika trader memasang order, matching engine exchange akan mencari order lawan yang memenuhi kriterianya. Proses pencocokan tersebut dipengaruhi oleh harga, jumlah liquidity, posisi antrean, dan aturan prioritas yang digunakan platform.
MEXC mendukung beberapa jenis order Spot, termasuk market order, limit order, TP/SL, OCO, dan trailing stop. Market dan limit order menjadi fondasi karena berbagai order lanjutan pada akhirnya dapat menggunakan salah satu mekanisme eksekusi tersebut.
Memahami Order Book Sebelum Market Order dan Limit Order
Order book adalah daftar order beli dan jual yang masih menunggu untuk dicocokkan. Order beli disebut bid, sedangkan order jual disebut ask.
Best bid merupakan harga beli tertinggi yang tersedia. Best ask merupakan harga jual terendah yang tersedia. Selisih antara best bid dan best ask disebut bid-ask spread.
Bayangkan order book BTC/USDT memiliki kondisi berikut:
| Sisi | Harga | Jumlah BTC |
|---|---|---|
| Ask | 60.030 USDT | 0,80 BTC |
| Ask | 60.020 USDT | 0,50 BTC |
| Ask | 60.010 USDT | 0,30 BTC |
| Ask | 60.000 USDT | 0,10 BTC |
| Harga terakhir | 59.990 USDT | — |
| Bid | 59.980 USDT | 0,40 BTC |
| Bid | 59.970 USDT | 0,70 BTC |
| Bid | 59.960 USDT | 1,20 BTC |
Jika trader ingin membeli, order akan berinteraksi dengan sisi ask karena sisi tersebut berisi BTC yang sedang ditawarkan untuk dijual. Jika trader ingin menjual, order akan berinteraksi dengan sisi bid.
Harga terakhir 59.990 USDT hanya menunjukkan harga transaksi sebelumnya. Angka tersebut tidak menjamin market buy berikutnya dapat dieksekusi pada harga yang sama karena best ask pada contoh berada di 60.000 USDT.
Order book inilah yang menentukan bagaimana market order dan limit order dieksekusi. Semakin dalam order book dan semakin kecil jarak antarlevel harga, semakin besar kemampuan market menyerap transaksi tanpa perubahan harga yang signifikan.
Apa Itu Market Order?
Market order adalah instruksi untuk membeli atau menjual aset secepat mungkin menggunakan harga terbaik yang tersedia pada order book. Trader tidak menentukan harga eksekusi secara pasti karena prioritas utamanya adalah menyelesaikan transaksi.
Pada market buy, sistem mencocokkan order dengan sell order mulai dari best ask. Pada market sell, sistem mencocokkannya dengan buy order mulai dari best bid.
Secara sederhana:
Market buy mengambil liquidity dari sisi ask. Market sell mengambil liquidity dari sisi bid.
Market order tidak berarti seluruh transaksi dilakukan pada satu harga. Jika liquidity pada harga terbaik tidak mencukupi, matching engine akan melanjutkan eksekusi ke level berikutnya sampai jumlah order terpenuhi atau liquidity yang tersedia habis.
Bagaimana Market Order Dieksekusi?
Bayangkan sisi ask pada order book BTC/USDT berisi:
- 0,10 BTC pada 60.000 USDT.
- 0,20 BTC pada 60.010 USDT.
- 0,50 BTC pada 60.020 USDT.
- 1 BTC pada 60.050 USDT.
Trader memasukkan market buy sebesar 0,60 BTC. Karena pada harga pertama hanya tersedia 0,10 BTC, order tidak dapat diselesaikan seluruhnya pada 60.000 USDT.
Matching engine kemudian membeli:
- 0,10 BTC pada 60.000 USDT.
- 0,20 BTC pada 60.010 USDT.
- 0,30 BTC pada 60.020 USDT.
Total nilai pembelian menjadi:
(0,10 × 60.000) + (0,20 × 60.010) + (0,30 × 60.020) = 36.008 USDT.
Average execution price:
36.008 ÷ 0,60 = sekitar 60.013,33 USDT.
Walaupun harga terbaik pada awal transaksi adalah 60.000 USDT, rata-rata eksekusinya menjadi sekitar 60.013,33 USDT. Selisih tersebut muncul karena market order mengonsumsi liquidity dari beberapa level harga.
Market order memberikan prioritas pada kecepatan eksekusi, bukan kepastian harga.
Pada kondisi market ekstrem atau liquidity sangat terbatas, market order juga dapat hanya terisi sebagian. MEXC menjelaskan bahwa bagian order berukuran besar yang tidak dapat dipenuhi oleh liquidity tersedia dapat dibatalkan oleh sistem.
Market Order Tidak Sama dengan “Beli di Harga yang Tampil”
Harga yang terlihat pada halaman trading dapat merujuk pada last traded price, best bid, atau best ask. Angka tersebut merupakan informasi market, bukan janji bahwa seluruh order berikutnya akan memperoleh harga yang sama.
Jika trader memasukkan market buy lebih besar daripada jumlah yang tersedia pada best ask, transaksi akan bergerak ke level ask berikutnya. Semakin besar ukuran order dibandingkan market depth, semakin besar kemungkinan average execution price menjauh dari harga terbaik awal.
Karena itu, sebelum menggunakan market order, trader perlu memperhatikan:
- Bid-ask spread.
- Jumlah aset pada best bid dan best ask.
- Kedalaman order book.
- Ukuran order dibandingkan liquidity.
- Volatilitas terbaru.
- Volume perdagangan pair.
Harga terakhir hanya menjawab pertanyaan mengenai transaksi sebelumnya. Order book menjawab pertanyaan mengenai harga yang mungkin tersedia untuk transaksi berikutnya.
Apa Itu Slippage?
Slippage adalah perbedaan antara harga yang diperkirakan ketika order dikirim dan harga rata-rata yang benar-benar diperoleh setelah transaksi dieksekusi.
Misalnya, trader melihat BTC berada di sekitar 60.000 USDT, tetapi market buy berukuran besar memperoleh average execution price 60.120 USDT. Selisih 120 USDT tersebut setara dengan slippage sekitar 0,20% terhadap harga awal.
Slippage tidak selalu berasal dari kesalahan exchange. Harga dapat berubah ketika transaksi sedang diproses, atau ukuran order dapat menghabiskan liquidity dari beberapa level order book.
Beberapa faktor yang dapat memperbesar slippage adalah:
- Liquidity rendah.
- Order berukuran besar.
- Spread lebar.
- Volatilitas tinggi.
- Order book tipis.
- Pair dengan volume rendah.
- Aktivitas trading yang meningkat mendadak.
- Pergerakan harga yang sangat cepat.
Slippage juga tidak selalu merugikan. Trader dapat memperoleh positive slippage jika average execution price lebih baik daripada perkiraan awal. Namun, negative slippage tetap menjadi risiko utama yang perlu diperhitungkan ketika menggunakan market order.
Contoh Slippage pada Order Book Tipis
Bayangkan token XYZ memiliki sell liquidity berikut:
- 100 XYZ pada 1,00 USDT.
- 200 XYZ pada 1,05 USDT.
- 300 XYZ pada 1,10 USDT.
- 1.000 XYZ pada 1,20 USDT.
Trader ingin membeli 1.000 XYZ menggunakan market order. Karena hanya tersedia 100 token pada harga terbaik, sistem harus membeli sebagian aset pada harga yang lebih tinggi.
Eksekusinya menjadi:
- 100 XYZ pada 1,00 USDT = 100 USDT.
- 200 XYZ pada 1,05 USDT = 210 USDT.
- 300 XYZ pada 1,10 USDT = 330 USDT.
- 400 XYZ pada 1,20 USDT = 480 USDT.
Total biaya untuk memperoleh 1.000 XYZ adalah 1.120 USDT. Average execution price-nya menjadi 1,12 USDT, meskipun harga terbaik awal hanya 1,00 USDT.
Market impact pada contoh tersebut mencapai sekitar 12% terhadap harga terbaik awal, belum termasuk trading fee. Ini menunjukkan bahwa biaya eksekusi akibat liquidity rendah dapat jauh lebih besar daripada fee yang terlihat pada halaman trading.
Kelebihan Market Order
1. Eksekusi Lebih Cepat
Market order relevan ketika trader membutuhkan posisi dengan segera. Selama tersedia liquidity yang memadai, order dapat langsung dicocokkan dengan order lawan.
Kecepatan ini dapat berguna ketika trader perlu keluar karena tesis berubah, mengurangi exposure, atau mengikuti setup yang sangat bergantung pada momentum. Namun, trader harus menerima bahwa harga akhirnya dapat berbeda dari angka yang terlihat sebelumnya.
2. Probabilitas Terisi Lebih Tinggi
Market order tidak menunggu harga mencapai level tertentu. Sistem langsung menggunakan liquidity yang tersedia sehingga probabilitas eksekusinya biasanya lebih tinggi daripada limit order.
Meskipun demikian, eksekusi penuh tidak dapat dianggap mutlak. Order yang terlalu besar atau pair dengan liquidity sangat rendah tetap dapat mengalami partial fill.
3. Lebih Sederhana Digunakan
Trader tidak perlu memasukkan limit price. Pengguna cukup menentukan jumlah aset yang ingin dijual atau total dana yang ingin digunakan untuk membeli.
Kesederhanaan tersebut tidak membuat market order bebas risiko. Pemula tetap perlu memeriksa spread, liquidity, market depth, dan estimasi jumlah aset yang akan diterima.
4. Berguna untuk Exit Mendesak
Ketika prioritas trader adalah mengurangi risiko secepat mungkin, market order dapat memberikan execution certainty yang lebih tinggi. Fungsi ini penting ketika risiko pergerakan harga lanjutan dianggap lebih besar daripada potensi slippage.
Kekurangan Market Order
1. Harga Tidak Dijamin
Harga yang terlihat sebelum menekan Buy atau Sell belum tentu sama dengan average execution price. Order dapat dieksekusi pada beberapa level harga sesuai liquidity yang tersedia.
2. Risiko Slippage
Slippage cenderung meningkat ketika market volatil, spread melebar, liquidity berkurang, atau ukuran order membesar. Perbedaan harga tersebut dapat mengubah entry price dan risk-reward suatu posisi.
3. Dapat Memakan Beberapa Level Order Book
Market order berukuran besar mengambil liquidity secara bertahap. Semakin dalam order bergerak melalui order book, semakin jauh average price dari harga terbaik awal.
4. Kurang Ideal untuk Entry Presisi
Trader yang memiliki area support, resistance, stop-loss, atau invalidation tertentu dapat kehilangan risk-reward yang direncanakan jika entry dieksekusi terlalu jauh dari harga awal.
5. Market Impact Lebih Besar pada Pair Tipis
Market order besar dapat mendorong harga secara langsung. Dampaknya tidak hanya dirasakan trader yang memasang order, tetapi juga terlihat pada harga terakhir dan kondisi order book setelah transaksi.
Apa Itu Limit Order?
Limit order adalah instruksi untuk membeli atau menjual aset pada harga yang ditentukan trader atau harga yang lebih menguntungkan.
Pada limit buy, trader menentukan harga maksimum yang bersedia dibayar. Order dapat dieksekusi pada harga tersebut atau harga yang lebih rendah.
Pada limit sell, trader menentukan harga minimum yang bersedia diterima. Order dapat dieksekusi pada harga tersebut atau harga yang lebih tinggi.
Limit order mengontrol batas harga, tetapi tidak menjamin transaksi akan terjadi.
Jika tidak terdapat order lawan yang sesuai, limit order akan tetap berada di order book sampai terisi, dibatalkan, atau berakhir sesuai pengaturan yang tersedia.
Bagaimana Limit Buy Bekerja?
Misalnya ETH diperdagangkan di sekitar 3.000 USDT. Trader menilai area 2.900 USDT lebih menarik dan hanya bersedia membeli pada harga tersebut atau lebih rendah.
Trader kemudian memasang limit buy untuk 1 ETH pada 2.900 USDT. Terdapat beberapa kemungkinan.
Skenario A: Harga Turun dan Liquidity Mencukupi
Harga turun ke 2.900 USDT dan tersedia seller setidaknya 1 ETH. Limit order dapat terisi seluruhnya.
Skenario B: Liquidity Hanya Cukup untuk Sebagian Order
Harga mencapai 2.900 USDT, tetapi hanya tersedia sell liquidity sebesar 0,40 ETH. Trader menerima partial fill sebesar 0,40 ETH, sedangkan sisa 0,60 ETH tetap menunggu.
Skenario C: Harga Menyentuh Level Secara Singkat
Harga terakhir sempat menunjukkan 2.900 USDT, tetapi order trader berada di belakang antrean lain. Harga kemudian naik sebelum tersedia liquidity yang cukup untuk mencapai posisi trader.
Dalam kondisi tersebut, limit order dapat tetap tidak terisi meskipun chart terlihat menyentuh 2.900 USDT.
Skenario D: Harga Tidak Pernah Turun
Harga naik langsung ke 3.300 USDT. Limit buy tidak terisi, tetapi trader juga tidak membeli di atas batas harga yang sudah ditentukan.
Inilah trade-off utama limit order:
Trader memperoleh price certainty, tetapi menghadapi execution risk.
Bagaimana Limit Sell Bekerja?
Misalnya trader memiliki SOL yang sedang diperdagangkan pada 150 USDT. Trader menargetkan penjualan pada 165 USDT dan memasang limit sell sebesar 10 SOL pada harga tersebut.
Jika harga mencapai 165 USDT dan tersedia buyer yang mencukupi, order dapat terisi seluruhnya. Jika liquidity hanya cukup untuk membeli 4 SOL, trader menerima partial fill dan sisa 6 SOL tetap berada di order book.
Limit sell membantu trader menentukan harga minimum yang bersedia diterima. Namun, jika harga tidak pernah mencapai level tersebut, aset tetap berada dalam saldo trader dan order dapat terus terbuka.
Harga Menyentuh Limit Belum Tentu Order Terisi
Ini merupakan salah satu kesalahpahaman paling umum mengenai limit order. Chart hanya menunjukkan transaksi yang berhasil terjadi, bukan posisi setiap trader dalam antrean order.
Jika harga terakhir menyentuh limit price, hal tersebut tidak membuktikan bahwa tersedia liquidity yang cukup untuk mengisi seluruh order pada level tersebut. Eksekusinya masih dipengaruhi jumlah counterparty, ukuran order, posisi antrean, urutan waktu, serta kecepatan pergerakan market.
Pada banyak matching engine, order dengan harga yang sama diproses berdasarkan prioritas waktu. Trader yang menempatkan order lebih dahulu dapat memperoleh eksekusi sebelum order lain yang masuk kemudian.
Karena itu, harga yang menyentuh level tertentu tidak sama dengan jaminan bahwa seluruh limit order pada level tersebut sudah terisi.
Apa Itu Partial Fill?
Partial fill terjadi ketika hanya sebagian jumlah order yang berhasil dicocokkan.
Misalnya trader memasang limit buy sebesar 10 ETH pada 3.000 USDT. Ketika harga mencapai level tersebut, sell liquidity yang tersedia hanya 4 ETH.
Trader telah membeli 4 ETH, tetapi masih memiliki open order sebesar 6 ETH. Sisa order tersebut dapat terus menunggu sampai tersedia liquidity tambahan atau sampai trader membatalkannya.
Partial fill perlu diperiksa karena trader mungkin mengira seluruh posisi sudah terbentuk. Kesalahan tersebut dapat memengaruhi position sizing, take-profit, stop-loss, dan total exposure.
Kelebihan Limit Order
1. Kontrol Harga Lebih Tinggi
Trader menentukan harga maksimum ketika membeli atau harga minimum ketika menjual. Mekanisme ini membantu mencegah eksekusi pada harga yang terlalu jauh dari trading plan.
2. Cocok untuk Entry dan Exit Terencana
Limit order dapat ditempatkan di sekitar support, resistance, pullback, atau target profit. Trader tidak harus terus memantau chart untuk mengirim order secara manual ketika harga mencapai area tersebut.
3. Membantu Mengurangi FOMO
Trader yang takut kehilangan peluang sering membeli setelah harga naik tajam. Limit order membantu memisahkan keputusan entry dari tekanan emosional dan memaksa trader menentukan batas harga sebelumnya.
4. Slippage Lebih Terkontrol
Limit buy tidak boleh dieksekusi di atas batas yang ditentukan, sedangkan limit sell tidak boleh dieksekusi di bawah batas tersebut. Harga aktual bahkan dapat lebih menguntungkan jika tersedia order lawan dengan harga lebih baik.
5. Berpotensi Menambah Liquidity
Limit order yang tidak langsung bertemu dengan order lawan akan masuk ke order book. Dalam kondisi tersebut, order menambah liquidity dan dapat berperan sebagai maker.
Kekurangan Limit Order
1. Order Dapat Tidak Terisi
Harga mungkin tidak pernah mencapai limit price. Trader memperoleh kontrol harga, tetapi dapat kehilangan peluang untuk membangun posisi.
2. Risiko Partial Fill
Liquidity yang tersedia mungkin tidak cukup untuk memenuhi seluruh order. Trader perlu memeriksa jumlah yang sudah terisi dan jumlah yang masih terbuka.
3. Dana Dapat Terkunci
Dana yang dialokasikan untuk open order biasanya tidak dapat digunakan pada transaksi lain sampai order terisi atau dibatalkan. Order lama yang terlupakan dapat mengganggu pengelolaan saldo.
4. Harga Dapat Terus Bergerak Setelah Order Terisi
Limit order memastikan batas harga, bukan kualitas keputusan. Harga dapat terus turun setelah limit buy terisi atau terus naik setelah limit sell dieksekusi.
5. Tidak Selalu Menjadi Maker
Limit order dapat langsung mencocokkan liquidity yang tersedia jika limit price melewati best bid atau best ask. Dalam kondisi tersebut, limit order bertindak sebagai taker.
Market Order vs Limit Order: Perbedaan Utama
| Aspek | Market Order | Limit Order |
|---|---|---|
| Prioritas | Kecepatan eksekusi | Kontrol harga |
| Menentukan harga | Tidak | Ya |
| Waktu eksekusi | Biasanya lebih cepat | Menunggu harga dan liquidity |
| Kepastian harga | Lebih rendah | Harga dibatasi |
| Kepastian terisi | Relatif lebih tinggi | Tidak dijamin |
| Risiko slippage | Lebih tinggi | Lebih terkontrol |
| Risiko tidak terisi | Relatif lebih rendah | Ada |
| Partial fill | Dapat terjadi | Dapat terjadi |
| Interaksi order book | Mengambil liquidity | Dapat menambah atau mengambil liquidity |
| Peran umum | Taker | Maker atau taker |
| Cocok untuk | Entry atau exit cepat | Entry atau exit terencana |
| Pair tidak likuid | Berisiko mengalami slippage besar | Harga terkontrol, tetapi dapat tidak terisi |
| Dana tertahan | Biasanya tidak lama | Dapat terkunci sebagai open order |
| Pertanyaan utama | “Apakah transaksi harus dilakukan sekarang?” | “Pada harga berapa saya bersedia bertransaksi?” |
Perbedaan fundamental keduanya dapat diringkas sebagai berikut:
Market order mengejar execution certainty. Limit order mengejar price certainty.
Keduanya tetap tidak memberikan kepastian mutlak. Market order dapat mengalami slippage atau partial fill, sedangkan limit order tidak menjamin transaksi akan terjadi.
Hubungan Liquidity dengan Jenis Order
Liquidity menggambarkan seberapa mudah suatu aset dapat dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar. Market dengan liquidity tinggi biasanya memiliki banyak buyer dan seller, spread relatif sempit, serta order book yang lebih dalam.
Pada pair liquid, market order berukuran kecil cenderung dapat dieksekusi dekat dengan harga terbaik. Namun, liquidity tetap dapat berubah ketika volatilitas meningkat atau banyak trader mengambil liquidity secara bersamaan.
Market dengan liquidity rendah memiliki order book lebih tipis, spread lebih lebar, dan jarak lebih besar antarlevel harga. Market order dapat melewati banyak level sekaligus, sedangkan limit order mungkin harus menunggu lebih lama karena jumlah counterparty terbatas.
Semakin rendah liquidity, semakin besar trade-off antara execution certainty dan price certainty.
Apa Itu Bid-Ask Spread?
Bid-ask spread adalah selisih antara best bid dan best ask. Jika best bid berada di 99 USDT dan best ask berada di 100 USDT, spread-nya adalah 1 USDT.
Market buy mengambil liquidity dari sisi ask sehingga pembeli membayar sekitar 100 USDT. Market sell mengambil liquidity dari sisi bid sehingga penjual menerima sekitar 99 USDT.
Spread merupakan salah satu biaya tidak langsung dalam trading. Semakin lebar spread, semakin besar pergerakan harga yang dibutuhkan sebelum posisi mulai menghasilkan keuntungan.
Trader sebaiknya tidak hanya melihat trading fee. Spread, slippage, dan market impact dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap hasil transaksi, terutama pada pair dengan liquidity rendah.
Market Order sebagai Taker
Market order mengambil liquidity yang sudah tersedia pada order book. Karena itu, market order pada umumnya berperan sebagai taker.
Taker tidak menunggu counterparty baru. Order langsung berinteraksi dengan limit order yang sudah tersimpan pada sisi berlawanan.
Market order bukan satu-satunya order yang dapat menjadi taker. Limit order juga dapat bertindak sebagai taker jika harganya langsung bertemu dengan order lawan.
Misalnya best ask BTC berada di 60.000 USDT, lalu trader memasang limit buy pada 60.100 USDT. Walaupun menggunakan limit order, instruksi tersebut dapat langsung mengambil sell order mulai dari 60.000 USDT.
Eksekusinya tetap tidak boleh lebih buruk dari limit price 60.100 USDT. Namun, karena order langsung mengambil liquidity, statusnya dapat menjadi taker.
Limit Order sebagai Maker atau Taker
Limit order menjadi maker apabila tidak langsung bertemu dengan order lawan dan masuk ke order book sebagai liquidity baru.
Misalnya best ask BTC berada di 60.000 USDT dan trader memasang limit buy pada 59.500 USDT. Order tersebut tidak langsung executable sehingga menunggu di sisi bid dan menambah liquidity.
Sebaliknya, limit order menjadi taker jika langsung bertemu dengan order yang tersedia. Oleh karena itu, jenis order saja belum cukup untuk menentukan status maker atau taker; posisi limit price terhadap order book juga perlu diperhatikan.
Trading fee maker dan taker dapat berubah mengikuti pair, wilayah, level pengguna, atau program yang berlaku. Periksa struktur biaya terbaru dan jangan berasumsi bahwa seluruh limit order otomatis memperoleh maker fee.
Kapan Market Order Lebih Cocok?
1. Eksekusi Lebih Penting daripada Selisih Harga Kecil
Market order dapat lebih relevan ketika trader harus masuk atau keluar dengan cepat dan bersedia menerima perbedaan harga dalam batas tertentu. Contohnya adalah ketika tesis berubah dan trader perlu mengurangi exposure.
2. Pair Memiliki Liquidity Tinggi
Pada pair dengan order book dalam dan spread sempit, market order kecil biasanya memiliki market impact yang lebih terbatas. Trader tetap perlu memeriksa depth karena liquidity dapat berubah.
3. Nominal Order Relatif Kecil
Order kecil dibandingkan liquidity yang tersedia cenderung mengonsumsi lebih sedikit level order book. Potensi slippage biasanya lebih terbatas, meskipun tidak pernah sepenuhnya hilang.
4. Trader Mengikuti Breakout
Market order dapat digunakan ketika breakout sudah terkonfirmasi dan kecepatan entry menjadi bagian dari strategi. Namun, trader perlu menerima kemungkinan entry price berbeda dari harga pemicu awal.
5. Trader Membutuhkan Exit Mendesak
Ketika risiko pergerakan harga lanjutan dianggap lebih besar daripada potensi slippage, market sell dapat digunakan untuk meningkatkan peluang keluar lebih cepat.
Kapan Limit Order Lebih Cocok?
1. Trader Memiliki Area Entry
Jika analisis menunjukkan support pada area tertentu, limit buy dapat membantu trader menunggu harga tanpa mengejar market.
2. Trader Memiliki Target Profit
Limit sell dapat ditempatkan di sekitar resistance atau target yang telah dihitung. Order akan menunggu sampai tersedia buyer pada harga tersebut atau lebih baik.
3. Harga Entry Sangat Penting
Pada strategi dengan stop-loss sempit, perbedaan kecil pada entry dapat mengubah risk-reward secara signifikan. Limit order memberikan kontrol lebih tinggi terhadap batas harga.
4. Trader Tidak Harus Masuk Sekarang
Jika setup belum muncul, trader tidak wajib memiliki posisi. Limit order memungkinkan trader menunggu kondisi yang sesuai dengan trading plan.
5. Market Memiliki Spread Lebar
Limit order dapat mencegah trader langsung menerima best ask atau best bid yang kurang menguntungkan. Konsekuensinya, order mungkin perlu menunggu lebih lama atau tidak terisi.
Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
Limit order sering menjadi alat belajar yang baik karena memaksa pemula menentukan harga sebelum melakukan transaksi. Proses tersebut mendorong trader untuk memikirkan alasan entry, support, resistance, invalidation, target profit, dan risk-reward.
Namun, bukan berarti pemula dilarang menggunakan market order. Market order dapat berguna untuk nominal kecil pada pair liquid ketika eksekusi cepat benar-benar diperlukan dan trader sudah memahami slippage.
Hal yang perlu dihindari adalah menggunakan market order hanya karena takut harga naik dan tidak kebagian. Keputusan berbasis FOMO dapat menghasilkan entry buruk meskipun order berhasil dieksekusi dengan cepat.
Sebelum memilih jenis order, pemula sebaiknya menjawab:
- Apakah saya harus masuk atau keluar sekarang?
- Apakah saya memiliki harga entry tertentu?
- Seberapa liquid pair yang diperdagangkan?
- Berapa spread-nya?
- Berapa besar order saya dibandingkan market depth?
- Apakah saya siap jika order tidak terisi?
- Apakah saya menerima kemungkinan slippage?
Jawaban atas pertanyaan tersebut lebih berguna daripada memilih order berdasarkan mana yang terlihat paling mudah.
Kesalahan Pemula Saat Menggunakan Market Order
1. Market Buy Setelah Harga Pump
Trader melihat token naik tajam lalu langsung menggunakan market buy. Jika momentum berbalik, entry dapat berada dekat area harga tertinggi.
Sebelum membeli, periksa apakah keputusan berasal dari trading plan atau hanya rasa takut kehilangan peluang.
2. Tidak Memeriksa Order Book
Market order pada pair tipis dapat memakan beberapa level harga. Trader yang hanya melihat last price dapat meremehkan slippage dan market impact.
Periksa spread, jumlah pada best bid atau ask, dan kedalaman market sebelum memasukkan nominal besar.
3. Menganggap Harga Layar sebagai Harga Final
Harga terakhir bukan jaminan average execution price. Market order menggunakan liquidity yang tersedia ketika matching engine memproses transaksi.
4. Menggunakan Nominal Besar Sekaligus
Order besar pada pair tidak likuid dapat menghasilkan average price yang jauh lebih buruk. Trader dapat mempertimbangkan membagi order atau menggunakan limit order.
5. Mengabaikan Slippage
Selisih kecil mungkin tidak terasa pada transaksi kecil, tetapi dapat berdampak signifikan pada nominal besar atau strategi dengan margin keuntungan tipis.
MEXC menyediakan Spot Order FAQ yang membahas order tidak terisi, liquidity, dan perbedaan harga eksekusi.
Kesalahan Pemula Saat Menggunakan Limit Order
1. Memasang Limit Price Tanpa Dasar
Trader memasang harga jauh di bawah market hanya karena ingin membeli lebih murah. Tanpa analisis, limit price hanya menjadi angka acak yang mungkin tidak pernah tercapai.
2. Menganggap Limit Order Pasti Terisi
Menyentuh harga limit tidak menjamin seluruh order selesai. Liquidity dan posisi antrean tetap menentukan eksekusi.
3. Tidak Memeriksa Partial Fill
Trader menganggap seluruh posisi telah terbentuk, padahal hanya sebagian order yang terisi. Kesalahan ini dapat mengacaukan position sizing dan exit plan.
4. Membiarkan Order Lama Tetap Aktif
Market structure dapat berubah, tetapi limit order lama masih tersimpan. Order tersebut dapat terisi ketika alasan awalnya sudah tidak relevan.
5. Menganggap Harga Lebih Murah Selalu Lebih Baik
Harga dapat turun karena perubahan fundamental atau tekanan jual besar. Limit buy pada harga rendah tetap membutuhkan invalidation dan risk management.
6. Menganggap Semua Limit Order sebagai Maker
Limit order yang langsung bertemu dengan order lawan dapat menjadi taker. Trader perlu memeriksa posisi harga dan struktur fee yang berlaku.
Limit Order Tidak Selalu Lebih Aman
Limit order sering dianggap lebih aman karena trader menentukan harga. Namun, kontrol harga tidak sama dengan kontrol risiko.
Misalnya token diperdagangkan pada 100 USDT dan trader memasang limit buy di 90 USDT. Harga kemudian jatuh karena masalah fundamental:
100 → 90 → 70 USDT.
Limit order terisi pada 90 USDT, tetapi harga terus turun ke 70 USDT. Trader memang memperoleh harga yang direncanakan, tetapi keputusan entry tersebut tetap menghasilkan kerugian.
Limit order masih membutuhkan:
- Market context.
- Position sizing.
- Invalidation.
- Stop-loss atau exit plan.
- Pemantauan kondisi fundamental.
- Pemahaman liquidity.
Harga yang lebih rendah tidak otomatis berarti entry yang lebih baik.
Cara Menggabungkan Market Order dan Limit Order
Trader tidak harus menggunakan satu jenis order untuk seluruh strategi. Market dan limit order dapat dipakai pada tahap berbeda berdasarkan tujuan masing-masing.
Contohnya, trader dapat memasang limit buy di area support sebagai entry pertama. Jika harga kemudian menembus resistance dengan volume kuat dan breakout terkonfirmasi, trader dapat menggunakan market order untuk menambah sebagian posisi.
Pada sisi exit, trader dapat memasang limit sell pada target profit. Jika tesis berubah drastis sebelum target tercapai, market sell dapat digunakan untuk mengurangi exposure dengan cepat.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa market dan limit order bukan dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya merupakan alat dengan fungsi berbeda:
- Limit order untuk harga yang direncanakan.
- Market order untuk kebutuhan eksekusi segera.
- Limit sell untuk target profit.
- Market sell untuk emergency exit.
- Beberapa limit order untuk entry bertahap.
- Kombinasi order untuk menyesuaikan perubahan kondisi market.
Jenis order sebaiknya dipilih berdasarkan fungsi dalam trading plan, bukan berdasarkan preferensi tetap.
Bagaimana dengan TP/SL, OCO, dan Trailing Stop?
Setelah memahami market dan limit order, trader dapat mempelajari order yang lebih kompleks.
TP/SL
Take-Profit/Stop-Loss menggunakan trigger tertentu untuk membantu merencanakan target profit atau pembatasan kerugian. Setelah trigger tercapai, sistem dapat mengirim market order atau limit order sesuai mekanisme yang dipilih.
OCO
OCO atau One-Cancels-the-Other menggabungkan dua kondisi order. Ketika salah satu order terpicu atau terisi sesuai aturannya, order lainnya dibatalkan.
MEXC menyediakan panduan penggunaan OCO order untuk memahami pengaturan target dan perlindungan risiko.
Trailing Stop
Trailing stop menyesuaikan trigger berdasarkan pergerakan harga. Fitur ini dapat membantu mengikuti tren, tetapi jarak trigger yang terlalu sempit juga dapat membuat order aktif akibat volatilitas normal.
Seluruh order lanjutan tersebut tetap membutuhkan pemahaman market dan limit order karena transaksi akhirnya akan berinteraksi dengan order book.
Market Order vs Limit Order untuk DCA
Dollar-Cost Averaging atau DCA adalah strategi membeli aset secara berkala tanpa terlalu berfokus pada satu harga entry.
Market order dapat digunakan ketika tujuan utama investor adalah memastikan pembelian berkala tetap dilakukan. Cara ini sederhana, tetapi harga aktual mengikuti liquidity yang tersedia ketika transaksi diproses.
Limit order dapat digunakan apabila investor tetap ingin melakukan pembelian berkala hanya pada area tertentu. Namun, sebagian jadwal pembelian dapat terlewat jika harga tidak pernah mencapai limit price.
Pilihan antara keduanya bergantung pada tujuan:
- Market order lebih sesuai jika konsistensi waktu pembelian menjadi prioritas.
- Limit order lebih sesuai jika batas harga tetap dianggap penting.
- Kombinasi keduanya dapat digunakan jika investor ingin membeli sebagian sekarang dan menunggu harga tertentu untuk sisanya.
Market Order vs Limit Order pada Token dengan Liquidity Rendah
Perbedaan kedua jenis order menjadi lebih penting pada token dengan liquidity rendah. Pair semacam ini biasanya memiliki spread lebar, order book tipis, dan volume transaksi lebih kecil.
Market order dapat memakan banyak level harga sekaligus. Average execution price dapat jauh lebih buruk daripada harga terakhir yang terlihat, terutama jika nominal transaksi relatif besar.
Limit order memberikan batas harga sehingga trader tidak membeli di atas atau menjual di bawah level tertentu. Namun, price control tersebut dibayar dengan risiko order menunggu lama, hanya terisi sebagian, atau tidak terisi.
Semakin rendah liquidity, semakin besar trade-off-nya:
Market order menghadapi risiko harga, sedangkan limit order menghadapi risiko eksekusi.
Market Order vs Limit Order Saat Market Crash
Ketika terjadi sell-off besar, liquidity pada order book dapat berubah sangat cepat. Buyer dapat menarik limit order, spread melebar, dan harga bergerak melewati beberapa level dalam waktu singkat.
Market sell memberikan peluang lebih tinggi untuk keluar, tetapi execution price dapat jauh lebih rendah daripada angka yang terlihat sebelum order dikirim. Slippage dapat meningkat karena banyak trader mengambil bid secara bersamaan.
Limit sell menjaga batas harga, tetapi dapat tidak terisi jika market langsung bergerak melewati level tersebut. Trader memperoleh kontrol harga, tetapi mungkin tetap memiliki aset ketika harga terus turun.
Tidak ada jenis order yang sepenuhnya menghilangkan risiko market crash. Trader perlu menentukan prioritasnya:
- Jika harus keluar secepat mungkin, market order mungkin lebih relevan.
- Jika tidak bersedia menjual di bawah harga tertentu, limit order memberikan batas.
- Jika nominal besar, pembagian order dapat membantu tetapi tidak menjamin hasil.
- Jika liquidity menghilang, semua jenis order dapat menghadapi masalah eksekusi.
Checklist Sebelum Menggunakan Market Order
Sebelum memasang market buy atau market sell, periksa:
- Apakah transaksi benar-benar harus dilakukan sekarang?
- Seberapa liquid pair tersebut?
- Berapa bid-ask spread?
- Seberapa dalam order book?
- Apakah ukuran order kecil dibandingkan liquidity?
- Apakah market sedang sangat volatil?
- Berapa estimasi slippage?
- Apakah saya menerima kemungkinan average price berbeda?
- Apakah keputusan ini berasal dari trading plan atau FOMO?
- Apakah saya sudah memiliki exit plan?
Market order sebaiknya digunakan ketika kebutuhan eksekusi cepat memiliki alasan yang jelas. Jangan mengorbankan kontrol harga jika sebenarnya transaksi tidak mendesak.
Checklist Sebelum Menggunakan Limit Order
Sebelum memasang limit buy atau limit sell, periksa:
- Kenapa saya memilih harga tersebut?
- Apakah harga berada di area support, resistance, atau target?
- Apa yang terjadi jika order tidak terisi?
- Apakah saya bersedia kehilangan peluang?
- Apakah saya sudah memperhitungkan partial fill?
- Di mana posisi invalidation?
- Apakah dana yang terkunci masih dibutuhkan?
- Berapa lama order akan dibiarkan terbuka?
- Apakah trading plan masih berlaku jika market structure berubah?
- Sudahkah saya memeriksa open order sebelumnya?
Limit order tidak perlu dibiarkan terbuka tanpa batas. Order harus ditinjau kembali ketika alasan awal, kondisi market, atau risk management berubah.
Cara Memilih Market Order atau Limit Order
Gunakan lima pertanyaan sederhana sebelum menekan Buy atau Sell.
1. Apakah Transaksi Harus Dilakukan Sekarang?
Jika jawabannya ya dan timing jauh lebih penting daripada selisih harga kecil, market order dapat dipertimbangkan. Jika tidak, limit order memberikan kontrol lebih besar.
2. Apakah Saya Memiliki Harga Spesifik?
Jika trader sudah memiliki area entry, target profit, atau batas harga yang jelas, limit order lebih sesuai dengan rencana tersebut.
3. Seberapa Liquid Pair Ini?
Market order relatif lebih mudah digunakan pada pair liquid. Pada pair tipis, periksa order book secara lebih teliti atau gunakan limit order untuk membatasi harga.
4. Seberapa Besar Order Saya?
Nominal yang kecil pada satu pair dapat menjadi order besar pada pair lain. Bandingkan ukuran transaksi dengan market depth, bukan hanya dengan saldo pribadi.
5. Mana yang Lebih Penting: Harga atau Eksekusi?
Ini merupakan pertanyaan utamanya.
Jika eksekusi menjadi prioritas, pertimbangkan market order. Jika harga menjadi prioritas, pertimbangkan limit order.
Kesimpulan
Market order dan limit order merupakan dua jenis order fundamental dalam trading kripto. Perbedaannya tidak berhenti pada cara memasukkan harga, tetapi mencerminkan prioritas dan risiko yang berbeda.
Market order memprioritaskan kecepatan. Order menggunakan liquidity yang tersedia sehingga peluang eksekusinya relatif lebih tinggi, tetapi harga akhirnya dapat berubah karena spread, slippage, market impact, dan kedalaman order book.
Limit order memprioritaskan kontrol harga. Trader menetapkan batas maksimum ketika membeli atau batas minimum ketika menjual, tetapi order dapat menunggu, hanya terisi sebagian, atau tidak terisi sama sekali.
Perbedaan market order vs limit order dapat diringkas dalam satu konsep:
Market order memberikan execution certainty yang lebih tinggi, sedangkan limit order memberikan price certainty yang lebih tinggi.
Keduanya tetap memiliki peran penting. Market order cocok ketika transaksi perlu dilakukan segera dan trader menerima risiko perubahan harga. Limit order cocok ketika trader memiliki level entry atau exit tertentu dan bersedia menerima risiko order tidak terisi.
Bagi pemula, limit order dapat membantu membangun kebiasaan merencanakan harga sebelum bertransaksi. Namun, market order tetap dapat digunakan untuk nominal kecil pada pair yang liquid ketika kecepatan memang dibutuhkan.
Sebelum memilih order, perhatikan liquidity, spread, market depth, volatilitas, ukuran transaksi, position sizing, dan trading plan. Jenis order tidak dapat memperbaiki analisis yang salah atau menghilangkan seluruh risiko.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan:
“Mana order yang paling bagus?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Dalam kondisi ini, mana yang lebih penting bagi saya: harga atau kepastian eksekusi?”
Tentang MEXC
MEXC merupakan platform perdagangan aset kripto yang berdiri sejak 2018. Berdasarkan halaman resmi Tentang MEXC, platform ini melayani lebih dari 40 juta pengguna di lebih dari 170 negara dan wilayah.
MEXC menyediakan Spot trading dengan berbagai jenis order untuk kebutuhan strategi yang berbeda. Pengguna dapat membaca panduan dasar Spot Trading MEXC sebelum melakukan transaksi.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Contoh harga, order book, jumlah aset, dan skenario dalam artikel hanya bersifat ilustratif serta tidak menggambarkan kondisi market aktual. Informasi ini bukan nasihat keuangan, investasi, hukum, pajak, atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual aset tertentu. Trading kripto memiliki risiko, termasuk volatilitas harga, slippage, liquidity rendah, partial fill, dan kemungkinan kehilangan sebagian atau seluruh dana. Selalu lakukan riset mandiri dan pertimbangkan toleransi risiko sebelum melakukan transaksi.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar
