
Otoritas AS membekukan US$344 juta aset kripto yang dikaitkan dengan Iran, sehari setelah Tether memblokir jumlah yang sama dalam USDT di dua alamat Tron atas permintaan aparat AS. Treasury Secretary Scott Bessent menyebut langkah itu sebagai bagian dari upaya untuk menekan jalur pendanaan Teheran dan menghantam seluruh “financial lifelines” yang terhubung ke rezim tersebut.
Angka US$344 juta itu bukan kebetulan terpisah. Tether pada 23 April menyatakan telah membekukan lebih dari US$344 juta USDT di dua alamat setelah menerima informasi dari beberapa otoritas AS terkait aktivitas melawan hukum, lalu sehari berikutnya Treasury mengonfirmasi bahwa wallet yang sama masuk dalam aksi sanksi yang terkait Iran.
Dua Wallet Tron Jadi Titik Tekan Baru
Aksi ini berpusat pada dua alamat Tron dengan saldo sekitar US$213 juta dan US$131 juta. OFAC kemudian menambahkan wallet tersebut ke daftar sanksi, sementara laporan lanjutan menyebut keduanya terkait jaringan yang berhubungan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps dan Hizballah.
Washington juga menghubungkan kasus ini dengan kampanye “Economic Fury” yang lebih luas terhadap Iran. Fokusnya bukan hanya perusahaan depan dan jaringan minyak, tetapi juga pemakaian aset digital untuk memindahkan dana lintas batas di bawah tekanan sanksi.
Konteksnya makin sensitif karena otoritas AS menilai Iran semakin aktif memakai aset digital untuk menyamarkan aktivitas keuangan lintas negara. Pejabat AS menyebut wallet yang dibekukan menunjukkan kaitan material dengan rezim Iran, termasuk aliran transaksi melalui exchange Iran dan alamat perantara yang berhubungan dengan wallet yang diasosiasikan dengan bank sentral Iran.
Peran Issuer Stablecoin Kian Terbuka
Kasus ini mendorong issuer stablecoin makin jauh ke wilayah enforcement. Tether menegaskan USDT bukan safe haven untuk aktivitas ilegal dan menyebut mereka kini bekerja dengan lebih dari 340 lembaga penegak hukum di 65 negara, mendukung lebih dari 2.300 kasus, serta telah membekukan lebih dari US$4,4 miliar aset secara total.
Arah itu datang saat tekanan global terhadap aliran dana ilegal berbasis stablecoin terus naik. FATF sebelumnya sudah memperingatkan bahwa stablecoin makin sering dipakai untuk money laundering, penghindaran sanksi, dan transfer nilai lintas batas yang sulit diawasi dengan pola tradisional.
Peristiwa ini juga memperkuat kontras antar issuer. Tether tampil agresif lewat freeze cepat dan koordinasi langsung dengan aparat, sementara perdebatan soal kapan issuer harus membekukan dana baru saja memanas setelah kasus Drift dan sorotan terhadap respons Circle pada awal bulan ini.
Stablecoin Kini Bukan Sekadar Alat Settlement
Kasus Iran ini memperjelas bahwa stablecoin sudah bergerak jauh melampaui fungsi settlement crypto biasa. Wallet, issuer, dan regulator sekarang berada dalam satu titik temu yang sama, tempat kepatuhan, geopolitik, dan kontrol atas aliran dana on-chain saling bertabrakan.
Fokus market berikutnya ada pada dua hal: seberapa agresif AS akan terus memakai jalur sanksi terhadap infrastruktur kripto, dan seberapa besar issuer stablecoin akan dipaksa berperan sebagai gatekeeper keuangan global. Freeze US$344 juta ini menunjukkan bahwa pertarungan berikutnya di sektor stablecoin tidak lagi hanya soal skala supply, tetapi juga soal kekuatan enforcement.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar