
Pavel Durov mengaitkan lonjakan penculikan yang menargetkan holder kripto di Prancis dengan kebocoran data dan dugaan penyalahgunaan informasi dari otoritas pajak. Dalam unggahannya, pendiri Telegram itu menyebut ada sekitar 41 penculikan terkait kripto di Prancis sejak awal 2026 dan menyimpulkan bahwa semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin banyak pula korban yang bisa ditargetkan.
Komentar itu muncul saat kasus-kasus penculikan kripto di Prancis memang sedang naik tajam. Pejabat Prancis Jean-Didier Berger mengatakan pemerintah sedang menyiapkan langkah perlindungan baru untuk investor kripto, setelah negara itu mencatat rata-rata satu kasus setiap 2,5 hari sepanjang 2026.
Fokus Tuduhan Mengarah ke Data Pajak
Durov secara spesifik menyinggung kasus Ghalia C., mantan pejabat pajak Prancis yang dituduh menjual data sensitif, termasuk informasi terkait investor dan profesional kripto, kepada jaringan kriminal. Dokumen kasus yang dilaporkan media menyebut ia ditahan sejak 30 Juni 2025 dan didakwa atas konspirasi kriminal serta keterlibatan dalam kekerasan.
Kasus itu memberi bobot pada argumen bahwa risiko bagi holder kripto tidak hanya datang dari jejak publik di media sosial atau pamer kekayaan digital, tetapi juga dari akses internal ke basis data negara. Laporan tentang Ghalia C. menyebut pencarian pada sistem pajak mencakup investor kripto dan data pribadi yang kemudian diduga dipakai untuk pemerasan atau penargetan fisik.
Durov juga memakai isu ini untuk menyerang dorongan negara agar platform digital menyerahkan lebih banyak data identitas dan akses komunikasi. Ia mengatakan Telegram lebih memilih keluar dari pasar Prancis daripada memberi birokrat yang korup akses ke pesan pribadi user.
Rangkaian Kasus Membuat Prancis Kian Disorot
Lonjakan kasus di Prancis bukan lagi insiden terpisah. Pada Januari 2025, Ledger co-founder David Balland dan istrinya diculik, lalu Reuters melaporkan gelombang serangan berikutnya memicu ketakutan besar di komunitas kripto Prancis, termasuk penculikan anggota keluarga pelaku industri dan pemintaan tebusan dalam aset digital.
Tekanan itu berlanjut pada 2026. Awal Februari, seorang hakim Prancis dan ibunya dibebaskan setelah penculikan yang kemudian dikaitkan dengan pasangan sang hakim yang aktif di sektor kripto. Pada April, seorang ibu dan anak berusia 11 tahun di Burgundy juga diculik, dengan pelaku meminta tebusan 400.000 euro dari ayah korban yang merupakan entrepreneur kripto.
Pemerintah Prancis mengakui ancaman ini makin serius. Berger mengatakan kantornya sudah menjalankan langkah pencegahan dan sedang menyiapkan rencana yang lebih kuat bersama Interior Minister Laurent Nuñez, sebuah tanda bahwa isu penculikan kripto kini sudah naik ke level keamanan domestik.
Debatnya Kini Bukan Cuma Soal Privasi
Tuduhan Durov belum dibalas secara rinci oleh otoritas Prancis, dan sampai sekarang hanya kasus Ghalia C. yang dikenal publik sebagai contoh dugaan penyalahgunaan data pajak untuk kepentingan kriminal. Namun rangkaian penculikan dan meningkatnya perhatian pejabat negara membuat hubungan antara kebocoran data, identitas holder kripto, dan serangan fisik kini sulit diabaikan.
Fokus berikutnya tidak hanya ada pada penangkapan pelaku, tetapi juga pada bagaimana negara dan platform digital menangani data sensitif milik user kripto. Pernyataan Durov mendorong satu pertanyaan yang lebih besar: apakah pengumpulan data yang makin luas justru menciptakan permukaan serangan baru bagi kriminal.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu lakukan riset mandiri dan pahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar