Ketika pertama kali masuk ke halaman trading kripto, pengguna biasanya akan menemukan dua pilihan order yang paling dasar: Market Order dan Limit Order. Keduanya sama-sama dapat digunakan untuk membeli atau menjual aset, tetapi cara kerjanya berbeda.
Market order memprioritaskan kecepatan eksekusi. Trader meminta sistem membeli atau menjual aset secepat mungkin menggunakan harga terbaik yang tersedia di order book.
Limit order memprioritaskan kontrol harga. Trader menentukan sendiri harga maksimum yang ingin dibayar ketika membeli atau harga minimum yang ingin diterima ketika menjual. Order baru akan terisi ketika terdapat counterparty pada harga tersebut atau harga yang lebih baik. MEXC menjelaskan prinsip dasarnya dengan sederhana: market order lebih cocok ketika prioritasnya adalah eksekusi cepat, sedangkan limit order lebih sesuai ketika trader ingin mengontrol harga entry atau exit.
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi pemilihan jenis order dapat memengaruhi harga rata-rata pembelian, slippage, peluang order terisi, hingga hasil akhir sebuah trading plan.
Bagi pemula, memahami perbedaan ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui letak tombol Buy dan Sell.
Artikel ini membahas market order vs limit order secara mendalam, mulai dari mekanisme order book, bid dan ask, slippage, partial fill, spread, hingga kondisi kapan masing-masing jenis order lebih tepat digunakan.
Key Takeaways
Beberapa hal utama yang perlu dipahami:
- Market order memprioritaskan eksekusi, bukan harga.
- Limit order memprioritaskan harga, tetapi tidak menjamin order akan terisi.
- Market order dapat mengalami slippage, terutama pada aset dengan likuiditas rendah atau ketika market bergerak cepat.
- Limit order memberikan kontrol harga yang lebih tinggi dan dapat digunakan untuk merencanakan entry di support atau exit di resistance.
- Limit order dapat tidak terisi apabila harga tidak pernah mencapai level yang ditentukan.
- Besarnya order ikut menentukan risiko slippage karena satu market order dapat memakan liquidity dari beberapa level order book.
- Spread dan kedalaman order book perlu diperhatikan sebelum menggunakan market order.
- Pemula tidak harus memilih satu jenis order untuk seluruh kondisi market.
- Market order dan limit order merupakan alat dengan fungsi berbeda.
- Sebelum memilih order, trader sebaiknya menentukan mana yang lebih penting: kepastian eksekusi atau kepastian harga.
Apa Itu Order dalam Trading Kripto?
Dalam trading, order adalah instruksi kepada exchange untuk membeli atau menjual suatu aset berdasarkan parameter tertentu.
Misalnya trader ingin membeli Bitcoin menggunakan USDT.
Pada halaman Spot trading MEXC, pengguna dapat memilih jenis order sesuai strategi yang digunakan. MEXC menyediakan beberapa jenis Spot order, termasuk limit, market, TP/SL, OCO, dan trailing stop.
Dua jenis yang paling fundamental adalah:
- Market order.
- Limit order.
Untuk memahami perbedaannya, trader perlu mengetahui bagaimana transaksi terjadi di dalam order book.
Memahami Order Book Sebelum Market dan Limit Order
Bayangkan ada sebuah market BTC/USDT.
Di dalamnya terdapat dua kelompok utama:
Buyer
Orang yang ingin membeli BTC.
Seller
Orang yang ingin menjual BTC.
Order mereka tersimpan di dalam order book.
Sisi buyer disebut bid.
Sisi seller disebut ask.
Contoh sederhana:
| Ask/Sell | Jumlah BTC |
|---|---|
| 60.030 USDT | 0,8 BTC |
| 60.020 USDT | 0,5 BTC |
| 60.010 USDT | 0,3 BTC |
| 60.000 USDT | Harga Terakhir |
| 59.990 USDT | 0,4 BTC |
| 59.980 USDT | 0,7 BTC |
| 59.970 USDT | 1,2 BTC |
Pada contoh tersebut, seller terdekat bersedia menjual di sekitar 60.010 USDT, sedangkan buyer terdekat berada di sekitar 59.990 USDT.
Perbedaan antara harga bid terbaik dan ask terbaik disebut bid-ask spread.
Order book inilah yang akan menentukan bagaimana market order dan limit order dieksekusi.
Apa Itu Market Order?
Market order adalah instruksi untuk membeli atau menjual aset secepat mungkin menggunakan harga terbaik yang tersedia pada order book.
Trader tidak menentukan harga pasti.
Trader menentukan:
“Saya ingin transaksi ini dilakukan sekarang menggunakan liquidity yang tersedia.”
MEXC menjelaskan bahwa market order cocok untuk kondisi ketika kecepatan entry atau exit menjadi prioritas.
Misalnya Bitcoin sedang diperdagangkan sekitar 60.000 USDT.
Trader memasukkan market buy senilai 100 USDT.
Sistem akan mencari sell order terbaik yang tersedia dan mencocokkan transaksi tersebut.
Jika liquidity cukup besar dan market stabil, harga rata-rata transaksi dapat sangat dekat dengan harga yang terlihat di layar.
Namun, tidak ada jaminan bahwa seluruh order akan dieksekusi tepat pada angka 60.000 USDT.
Ini merupakan karakteristik penting market order.
“Market order memberikan prioritas pada kepastian eksekusi, bukan kepastian harga.”
Bagaimana Market Order Dieksekusi?
Misalnya order book memiliki liquidity berikut:
| Harga Jual | BTC Tersedia |
|---|---|
| 60.000 USDT | 0,1 BTC |
| 60.010 USDT | 0,2 BTC |
| 60.020 USDT | 0,5 BTC |
| 60.050 USDT | 1 BTC |
Trader ingin membeli: 0,05 BTC.
Karena terdapat 0,1 BTC yang tersedia pada harga 60.000 USDT, seluruh order dapat diisi di sekitar level tersebut.
Sekarang bayangkan trader ingin membeli: 0,6 BTC.
Liquidity pada harga pertama tidak cukup.
Sistem harus mengambil:
- 0,1 BTC di 60.000.
- 0,2 BTC di 60.010.
- 0,3 BTC di 60.020.
Hasilnya, average execution price menjadi lebih tinggi daripada harga terbaik yang pertama kali terlihat.
Fenomena tersebut berkaitan dengan slippage.
Apa Itu Slippage?
Slippage adalah perbedaan antara harga yang diperkirakan ketika order ditempatkan dengan harga aktual ketika transaksi terisi.
MEXC menjelaskan bahwa slippage dapat terjadi ketika harga berubah dengan cepat atau ketika liquidity pada harga tertentu tidak cukup untuk memenuhi seluruh ukuran order.
Misalnya trader melihat:
BTC = 60.000 USDT.
Trader mengirim market buy dalam jumlah besar.
Average fill:
60.120 USDT.
Selisih tersebut merupakan slippage.
Apa yang Memperbesar Slippage?
Beberapa faktor utama:
- Likuiditas rendah.
- Order terlalu besar.
- Volatilitas tinggi.
- Spread lebar.
- Market bergerak sangat cepat.
- Token baru memiliki order book tipis.
- Aktivitas trading meningkat tajam.
MEXC juga mencatat bahwa order dengan ukuran lebih besar dapat memakan beberapa level liquidity sehingga average execution price berbeda dari quote terbaik yang terlihat.
Slippage Tidak Selalu Negatif
Slippage juga dapat bergerak menguntungkan trader.
Misalnya trader ingin membeli pada market price sekitar 10 USDT.
Ketika order sampai ke matching engine, harga terbaik berubah menjadi 9,98 USDT.
Trader memperoleh execution price yang lebih baik.
Ini disebut positive slippage.
Namun, dalam market yang sangat volatil atau liquidity tipis, risiko negative slippage tetap menjadi perhatian utama.
Kelebihan Market Order
1. Eksekusi Cepat
Market order cocok ketika trader ingin mendapatkan posisi dengan cepat.
Contohnya:
- Breakout sedang terjadi.
- Market bergerak cepat.
- Trader harus keluar dari posisi.
- Entry price yang sangat presisi bukan prioritas utama.
2. Probabilitas Order Terisi Lebih Tinggi
Selama terdapat liquidity di order book, market order biasanya dapat langsung diproses.
Ini berbeda dengan limit order yang dapat menunggu lama.
3. Lebih Sederhana untuk Pemula
Trader tidak perlu menentukan harga limit.
Cukup menentukan nominal atau jumlah aset.
Namun, kemudahan tersebut tetap memerlukan pemahaman terhadap liquidity dan slippage.
Kekurangan Market Order
1. Harga Tidak Dijamin
Harga yang terlihat ketika menekan Buy belum tentu menjadi average execution price.
2. Risiko Slippage
Risikonya meningkat ketika:
- Token memiliki liquidity rendah.
- Order besar.
- Market volatil.
3. Bisa Memakan Beberapa Level Order Book
Order berukuran besar dapat dieksekusi pada beberapa harga sekaligus.
4. Kurang Ideal untuk Entry yang Sangat Presisi
Jika trading plan mengatakan:
“Saya hanya mau membeli jika BTC berada di 60.000 atau lebih rendah.”
Market order mungkin bukan alat terbaik karena harga dapat bergerak sebelum transaksi selesai.
Apa Itu Limit Order?
Limit order memungkinkan trader menentukan sendiri harga yang diinginkan.
MEXC menjelaskan bahwa limit order akan dieksekusi pada harga yang ditentukan atau harga yang lebih baik. Jika belum terdapat order yang cocok, order akan tetap berada di order book sampai terisi atau dibatalkan.
Misalnya:
Harga BTC sekarang: 60.000 USDT.
Trader menilai area: 58.500 USDT merupakan support yang menarik.
Trader tidak perlu menunggu chart sepanjang hari.
Trader dapat memasang: Limit Buy = 58.500 USDT.
Jika harga turun dan terdapat seller yang memenuhi order tersebut, transaksi dapat dieksekusi.
Jika harga tidak pernah mencapai area tersebut, order tidak akan terisi.
Inilah trade-off utama limit order.
Limit order memberikan kontrol harga, tetapi tidak memberikan jaminan eksekusi.
Bagaimana Limit Buy Bekerja?
Misalnya ETH diperdagangkan di: 3.000 USDT.
Trader ingin membeli hanya jika harga turun ke: 2.900 USDT.
Trader memasukkan:
- Limit price: 2.900 USDT.
- Amount: 1 ETH.
Order kemudian masuk ke order book.
Ada dua kemungkinan.
Skenario A: Harga Turun ke 2.900
Seller tersedia.
Order trader terisi.
Skenario B: Harga Naik ke 3.300
Harga tidak pernah menyentuh 2.900.
Order tetap terbuka dan tidak terisi.
Trader memang kehilangan kesempatan mengikuti kenaikan harga, tetapi tidak pernah membeli lebih mahal daripada batas yang sudah ditentukan.
Bagaimana Limit Sell Bekerja?
Konsepnya sama untuk penjualan.
Misalnya trader membeli SOL di: 150 USDT.
Target profit berada di: 165 USDT.
Trader dapat menempatkan: Limit Sell = 165 USDT.
Jika harga mencapai level tersebut dan liquidity tersedia, order dapat terisi.
Dengan cara ini, trader dapat membuat exit plan tanpa harus melihat chart secara terus-menerus.
Kelebihan Limit Order
1. Kontrol Harga Lebih Tinggi
Trader menentukan sendiri harga transaksi yang dapat diterima.
2. Cocok untuk Trading Plan
Limit order dapat digunakan untuk merencanakan:
- Buy di support.
- Sell di resistance.
- Pullback entry.
- Range trading.
MEXC menyebut limit order lebih sesuai untuk pendekatan seperti support-resistance dan strategi yang mengutamakan kontrol harga.
3. Mengurangi Risiko Membeli karena FOMO
Trader dapat menentukan entry sebelum harga bergerak.
Hal ini membantu mengurangi keputusan seperti:
“Harga naik, beli sekarang sebelum ketinggalan.”
4. Harga Maksimum atau Minimum Sudah Ditentukan
Pada buy limit, trader menentukan harga maksimum yang bersedia dibayar.
Pada sell limit, trader menentukan harga minimum yang bersedia diterima.
Kekurangan Limit Order
1. Order Bisa Tidak Terisi
Ini merupakan risiko terbesar.
Trader dapat menentukan buy limit di 58.000 USDT.
Harga turun hanya sampai 58.100 kemudian naik ke 65.000.
Order tidak pernah terisi.
2. Bisa Hanya Terisi Sebagian
Misalnya trader memasang buy: 10 ETH di 3.000 USDT.
Namun, hanya terdapat liquidity yang cukup untuk menjual: 4 ETH.
Trader dapat menerima partial fill.
Sisanya tetap menjadi open order sampai terdapat liquidity tambahan atau order dibatalkan.
3. Harga Bisa Menyentuh Level tetapi Order Belum Tentu Terisi Sepenuhnya
Ini berkaitan dengan antrean order.
Jika banyak trader sudah memasang order pada harga yang sama, order yang lebih dahulu masuk dapat memiliki prioritas sesuai aturan matching yang berlaku.
Jadi:
Harga menyentuh limit ≠ selalu berarti seluruh order otomatis terisi.
Market Order vs Limit Order: Perbedaan Utama
| Aspek | Market Order | Limit Order |
|---|---|---|
| Prioritas | Kecepatan eksekusi | Kontrol harga |
| Menentukan harga sendiri | Tidak | Ya |
| Peluang langsung terisi | Tinggi jika liquidity tersedia | Tergantung market |
| Harga pasti | Tidak | Harga limit atau lebih baik |
| Risiko slippage | Lebih tinggi | Lebih terkontrol |
| Risiko tidak terisi | Relatif rendah | Ada |
| Cocok untuk | Entry/exit cepat | Planned entry/exit |
| Support/resistance strategy | Kurang presisi | Lebih sesuai |
| Volatilitas tinggi | Perlu hati-hati | Harga terkontrol, tetapi bisa tidak fill |
| Likuiditas tipis | Risiko slippage tinggi | Risiko tidak terisi lebih tinggi |
Perbedaan fundamental keduanya dapat diringkas menjadi:
Market Order = Saya ingin transaksi sekarang.
Limit Order = Saya ingin transaksi pada harga tertentu.
Market Order Tidak Sama dengan “Beli di Harga yang Tampil”
Ini merupakan kesalahan pemahaman yang cukup umum.
Misalnya halaman trading menampilkan:
BTC = 60.000 USDT.
Angka tersebut bukan jaminan seluruh market order akan mendapatkan harga tersebut.
Harga yang ditampilkan biasanya merepresentasikan informasi pasar tertentu seperti last traded price atau quote terbaik.
Eksekusi order tetap bergantung pada liquidity order book saat transaksi diproses.
Karena itu, semakin besar order dibandingkan kedalaman market, semakin penting memeriksa order book.
Apa Hubungan Likuiditas dengan Jenis Order?
Likuiditas menggambarkan seberapa mudah sebuah aset dapat dibeli atau dijual tanpa memberikan dampak harga terlalu besar.
Market Likuid
Karakteristiknya dapat berupa:
- Order book dalam.
- Banyak buyer dan seller.
- Spread relatif sempit.
- Banyak volume.
Market order relatif lebih mudah dieksekusi dekat dengan harga yang terlihat.
Market Tidak Likuid
Karakteristiknya dapat berupa:
- Order book tipis.
- Sedikit buyer dan seller.
- Spread lebar.
- Volume rendah.
Market order berukuran besar dapat melewati banyak level harga.
MEXC menjelaskan bahwa kondisi liquidity merupakan salah satu penyebab utama slippage pada Spot order.
Contoh Slippage pada Order Book Tipis
Misalnya token XYZ memiliki order book:
| Harga | Jumlah |
|---|---|
| 1,00 USDT | 100 XYZ |
| 1,05 USDT | 200 XYZ |
| 1,10 USDT | 300 XYZ |
| 1,20 USDT | 1.000 XYZ |
Trader ingin membeli:
1.000 XYZ menggunakan market order.
Hanya 100 tersedia di 1,00.
Sistem kemudian harus membeli sebagian pada:
- 1,05.
- 1,10.
- 1,20.
Average purchase price menjadi jauh lebih tinggi dari 1 USDT.
Jika trader hanya melihat angka 1 USDT tanpa melihat kedalaman order book, biaya riil entry dapat mengejutkan.
Apa Itu Bid-Ask Spread?
Spread adalah perbedaan antara harga buyer tertinggi dan seller terendah.
Misalnya:
Best bid: 99 USDT.
Best ask: 100 USDT.
Spread: 1 USDT.
Market dengan liquidity tinggi biasanya memiliki spread lebih sempit dibandingkan market yang liquidity-nya rendah.
Spread penting bagi market order karena buy market order mengambil liquidity dari sisi ask, sementara sell market order mengambil liquidity dari sisi bid.
Semakin lebar spread, semakin besar friction yang dapat dialami trader.
Market Order sebagai Taker dan Limit Order sebagai Maker?
Sering ada anggapan:
- Market = taker.
- Limit = maker.
Bagian pertama umumnya benar karena market order mengambil liquidity yang sudah tersedia.
Namun, limit order tidak selalu menjadi maker.
Misalnya:
Best ask BTC: 60.000.
Trader memasang limit buy: 60.100.
Karena trader bersedia membayar harga yang sudah tersedia, order tersebut dapat langsung match dan mengambil liquidity dari order book.
Jadi limit order dapat bersifat taker jika langsung executable.
Limit order baru menambah liquidity atau bertindak sebagai maker ketika ditempatkan pada harga yang belum langsung cocok dengan order lawan.
Ini merupakan detail yang penting ketika trader mulai memahami struktur order book lebih dalam.
Kapan Market Order Lebih Cocok?
Market order dapat lebih relevan ketika:
1. Eksekusi Lebih Penting daripada Selisih Harga Kecil
Misalnya trader harus keluar dari sebuah posisi dengan cepat.
2. Market Sangat Likuid
Pada pair dengan order book dalam, slippage untuk ukuran order kecil dapat relatif terbatas.
3. Trader Mengikuti Breakout
Harga menembus resistance dengan momentum kuat dan trader menerima kemungkinan selisih execution price sebagai bagian dari strategi.
4. Nominal Order Relatif Kecil Dibandingkan Market Depth
Order yang sangat kecil terhadap liquidity biasanya memiliki market impact lebih rendah.
Namun, tidak ada market order yang sepenuhnya bebas dari kemungkinan slippage.
Kapan Limit Order Lebih Cocok?
Limit order dapat lebih relevan ketika:
1. Trader Sudah Memiliki Area Entry
Misalnya analisis menunjukkan support: 95–97 USDT.
Trader dapat menempatkan buy limit di area tersebut.
2. Tidak Ingin Mengejar Harga
Limit order membantu trader tetap mengikuti trading plan.
3. Trading dalam Range
Misalnya:
- Support = 90.
- Resistance = 100.
Trader ingin mencoba membeli dekat support dan mengambil profit mendekati resistance.
4. Harga Entry Sangat Penting
Untuk strategi dengan stop-loss sempit, perbedaan beberapa persen pada entry dapat mengubah risk-reward secara signifikan.
5. Trader Tidak Harus Masuk Market Sekarang
Jika setup tidak muncul, tidak ada kewajiban memiliki posisi.
Contoh Market Order vs Limit Order
Bayangkan BTC sedang diperdagangkan di sekitar:
70.000 USDT.
Trader A dan Trader B sama-sama ingin membeli.
Trader A: Market Order
Trader A ingin segera memiliki BTC.
Ia memasukkan market buy 1.000 USDT.
Harga rata-rata eksekusi:
70.050 USDT.
Trader mendapatkan posisi dengan cepat, tetapi harganya sedikit berbeda dari harga awal yang terlihat.
Trader B: Limit Order
Trader B hanya bersedia membeli di:
69.000 USDT.
Ia menempatkan limit buy.
Ada dua kemungkinan.
Jika BTC turun ke 69.000 dan order terisi:
“Trader B mendapatkan entry yang direncanakan.”
Jika BTC langsung naik ke 75.000:
“Trader B tidak memiliki posisi.”
Apakah Trader B salah?
Tidak.
Ia hanya menentukan bahwa Bitcoin di atas 69.000 tidak memenuhi harga yang diinginkannya.
Inilah perbedaan filosofis antara keduanya.
Market order mengejar execution certainty.
Limit order mengejar price certainty.
Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
Untuk pemula, limit order biasanya lebih baik untuk dipelajari terlebih dahulu karena memaksa trader berpikir mengenai harga entry sebelum melakukan transaksi.
Trader perlu bertanya:
- Di harga berapa saya ingin membeli?
- Kenapa memilih area tersebut?
- Di mana support?
- Di mana invalidation?
- Berapa target?
- Apakah risk-reward masuk akal?
Proses tersebut membantu mengurangi keputusan impulsif.
Namun, bukan berarti pemula dilarang menggunakan market order.
Market order tetap berguna ketika:
- Aset sangat likuid.
- Nominal relatif kecil.
- Eksekusi cepat memang dibutuhkan.
- Trader memahami risiko slippage.
Yang perlu dihindari adalah menggunakan market order hanya karena:
“Saya tidak mau ketinggalan.”
Kesalahan Pemula Saat Menggunakan Market Order
1. Market Buy Setelah Pump
Trader melihat token naik 20% dalam waktu singkat lalu langsung market buy.
Jika momentum berbalik, entry berada dekat area harga tinggi.
2. Tidak Melihat Order Book
Terutama pada token dengan liquidity rendah.
3. Menganggap Harga di Layar adalah Harga Final
Average fill dapat berbeda.
4. Menggunakan Nominal Besar pada Pair Tipis
Order dapat menghabiskan liquidity dari beberapa level.
5. Mengabaikan Slippage
Selisih 0,1% mungkin kecil untuk beberapa transaksi, tetapi selisih beberapa persen dapat mengubah hasil trading secara signifikan.
Untuk memahami masalah ini lebih lanjut, trader dapat membaca MEXC Spot Order FAQ, yang menjelaskan hubungan antara liquidity, volatilitas, dan slippage.
Kesalahan Pemula Saat Menggunakan Limit Order
1. Memasang Limit Terlalu Jauh
Harga sekarang: 100 USDT.
Trader memasang buy di: 50 USDT.
Tanpa alasan teknikal order kemungkinan hanya menjadi angka acak.
2. Terlalu Takut Tidak Mendapat Harga Terbaik
Trader terus memindahkan limit lebih rendah. Harga akhirnya naik tanpa pernah memberikan entry.
3. Menganggap Limit Order Pasti Terisi
Tidak ada jaminan.
4. Tidak Membatalkan Order Lama
Market structure sudah berubah, tetapi limit order lama masih aktif.
Beberapa hari kemudian harga turun dan order terisi berdasarkan analisis yang sebenarnya sudah tidak relevan.
5. Tidak Memeriksa Partial Fill
Sebagian order terisi, tetapi trader menganggap seluruh posisi sudah terbentuk.
Limit Order Bukan Selalu Pilihan yang “Lebih Aman”
Limit order sering dianggap lebih aman karena trader menentukan harga.
Namun, price control tidak sama dengan risk control.
Misalnya token diperdagangkan di:
100 USDT.
Trader memasang limit buy di support 90.
Tiba-tiba muncul masalah fundamental besar.
Harga jatuh:
100 → 90 → 70.
Limit buy di 90 terisi ketika market sedang mengalami breakdown.
Trader memang mendapatkan harga yang diinginkan, tetapi setup sudah berubah.
Karena itu, limit order tetap membutuhkan:
- Market context.
- Invalidation.
- Stop-loss atau exit plan.
- Pemantauan catalyst.
Harga murah tidak otomatis berarti entry bagus.
Bagaimana Market Order dan Limit Order Digabungkan?
Trader tidak harus memilih satu selamanya.
Keduanya dapat digunakan dalam satu trading plan.
Contohnya:
Trader ingin membeli BTC.
Strateginya:
- Entry pertama
Limit buy di support. - Entry kedua
Jika breakout resistance berhasil dikonfirmasi, trader menggunakan market order untuk menambah posisi. - Exit pertama
Limit sell di target profit. - Emergency exit
Market sell jika thesis berubah drastis dan prioritasnya adalah keluar.
Masing-masing order digunakan berdasarkan kebutuhan yang berbeda.
Bagaimana dengan Stop-Loss, TP/SL, OCO, dan Trailing Stop?
Setelah memahami market dan limit order, trader dapat mempelajari jenis order Spot lainnya di MEXC.
MEXC Spot saat ini menyediakan sejumlah jenis order tambahan seperti TP/SL, OCO, dan trailing stop untuk memenuhi kebutuhan strategi yang berbeda.
TP/SL
Order bersyarat yang digunakan untuk merencanakan take-profit atau stop-loss.
OCO
Menggabungkan dua kondisi order. Ketika salah satu terpicu atau terisi sesuai mekanismenya, order lainnya dibatalkan. MEXC menjelaskan OCO dapat digunakan untuk merencanakan target profit dan proteksi downside tanpa harus memantau market secara terus-menerus.
Trailing Stop
Order yang dapat menyesuaikan trigger mengikuti pergerakan harga berdasarkan parameter yang ditentukan trader.
Pemula sebaiknya memahami market dan limit order terlebih dahulu karena keduanya menjadi fondasi untuk memahami mekanisme order yang lebih kompleks.
Cara Memilih Market atau Limit Order
Sebelum menekan Buy atau Sell, gunakan lima pertanyaan sederhana.
1. Apakah Saya Harus Masuk Sekarang?
Jika tidak: Pertimbangkan limit order.
Jika iya: Market order mungkin relevan.
2. Seberapa Likuid Pair Ini?
Periksa:
- Volume.
- Spread.
- Order book depth.
Liquidity rendah meningkatkan risiko slippage pada market order.
3. Seberapa Besar Order Saya?
Order $100 dan $100.000 dapat memiliki market impact yang sangat berbeda pada order book yang sama.
4. Apakah Saya Memiliki Harga Entry Spesifik?
Jika iya, limit order memberikan kontrol lebih besar.
5. Mana yang Lebih Penting: Harga atau Eksekusi?
Ini menjadi pertanyaan utama.
Harga → limit order.
Eksekusi → market order.
Checklist Sebelum Menggunakan Market Order
Sebelum market buy atau market sell:
- Apakah aset memiliki liquidity yang cukup?
- Apakah spread relatif wajar?
- Berapa dalam order book?
- Apakah market sedang sangat volatil?
- Seberapa besar order dibandingkan liquidity?
- Apakah saya siap menerima slippage?
- Apakah eksekusi cepat benar-benar diperlukan?
- Apakah saya sedang mengambil keputusan karena FOMO?
Checklist Sebelum Menggunakan Limit Order
Sebelum memasang limit:
- Kenapa saya memilih harga ini?
- Apakah level tersebut support atau resistance?
- Apa yang terjadi jika order tidak terisi?
- Apakah saya bersedia kehilangan opportunity?
- Apakah market structure masih mendukung setup?
- Di mana invalidation setelah posisi masuk?
- Apakah order lama perlu dibatalkan jika kondisi berubah?
- Apakah saya sudah memeriksa partial fill?
Contoh Trading Plan untuk Pemula
Misalnya sebuah aset diperdagangkan pada:
100 USDT.
Analisis menunjukkan:
- Support: 94–96.
- Resistance: 110.
- Invalidation: di bawah 92.
Trader tidak ingin mengejar harga di 100.
Rencananya dapat berupa:
Limit Entry: 95 USDT.
Invalidation: Di bawah 92 USDT.
Target: 105–110 USDT.
Jika harga tidak pernah turun ke 95:
“Tidak ada transaksi.”
Pendekatan seperti ini mengajarkan satu prinsip penting:
“Tidak mendapatkan posisi bukan berarti mengalami kerugian.”
Kadang keputusan terbaik adalah membiarkan sebuah opportunity lewat karena harga yang tersedia tidak sesuai dengan trading plan.
Market Order vs Limit Order untuk DCA
Untuk investor yang melakukan Dollar-Cost Averaging, kedua order tetap dapat digunakan.
Misalnya investor membeli Bitcoin Rp1 juta setiap bulan.
Market Order
Cocok jika tujuan utamanya adalah:
“Membeli sesuai jadwal tanpa terlalu memperhatikan perubahan harga kecil.”
Limit Order
Cocok jika investor:
“Tetap ingin melakukan pembelian berkala tetapi hanya pada area harga tertentu.”
Namun, penggunaan limit order dapat menyebabkan pembelian bulanan tidak terjadi jika harga tidak mencapai level tersebut.
Karena itu, strategi harus disesuaikan dengan tujuan.
Market Order vs Limit Order untuk Token dengan Likuiditas Rendah
Pada token kecil, perbedaannya menjadi jauh lebih penting.
Misalnya market cap kecil dengan order book tipis.
Market buy besar dapat:
1,00 → 1,05 → 1,12 → 1,20.
Trader mungkin mendapatkan average entry jauh di atas harga awal.
Dalam kondisi tersebut, limit order dapat membantu membatasi harga maksimum.
Namun, konsekuensinya:
Hanya sebagian order yang terisi atau tidak terisi sama sekali.
Semakin rendah liquidity, semakin besar trade-off antara execution certainty dan price certainty.
Market Order vs Limit Order Saat Market Crash
Ketika terjadi sell-off besar, kondisi order book dapat berubah sangat cepat.
Liquidity dapat berkurang dan spread melebar.
Market sell memberikan peluang lebih besar untuk keluar dengan cepat, tetapi execution price dapat jauh lebih rendah dari ekspektasi.
Limit sell dapat menjaga batas harga, tetapi jika market langsung bergerak melewati harga tersebut tanpa buyer yang cukup, order dapat tidak terisi.
Karena itu:
- Market order memiliki price risk.
- Limit order memiliki execution risk.
Tidak ada pilihan yang sepenuhnya menghilangkan risiko.
Kesimpulan
Market order dan limit order merupakan dua jenis order fundamental yang perlu dipahami sebelum mulai trading kripto.
Perbedaannya dapat diringkas dalam satu konsep:
Market order memprioritaskan eksekusi. Limit order memprioritaskan harga.
Market order cocok ketika trader membutuhkan transaksi cepat dan bersedia menerima kemungkinan harga eksekusi berbeda karena slippage.
Limit order cocok ketika trader sudah memiliki level entry atau exit tertentu dan bersedia menerima risiko order tidak terisi.
Bagi pemula, limit order merupakan alat yang baik untuk dipelajari lebih dahulu karena mendorong proses trading yang lebih terencana. Trader harus menentukan harga, memahami support atau resistance, dan menerima bahwa tidak semua pergerakan market harus dikejar.
Namun, market order tetap memiliki fungsi penting.
Pemilihan order sebaiknya tidak berdasarkan pertanyaan:
“Mana yang paling bagus?”
Pertanyaannya adalah:
“Dalam kondisi ini, mana yang lebih penting bagi saya: harga atau kepastian eksekusi?”
Sebelum menggunakan salah satunya, perhatikan liquidity, spread, kedalaman order book, volatilitas, ukuran transaksi, dan trading plan.
Trader yang memahami mekanisme order tidak hanya mengetahui bagaimana membeli sebuah aset. Ia juga memahami bagaimana transaksi tersebut benar-benar dieksekusi dan berapa biaya riil dari keputusan tersebut.
Untuk mempelajari mekanisme Spot lebih lanjut, pengguna dapat membaca panduan Spot Trading MEXC serta panduan berbagai jenis Spot Order.
Tentang MEXC
MEXC merupakan exchange cryptocurrency dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan dipercaya oleh lebih dari 40 juta pengguna di lebih dari 170 market. Dibangun dengan filosofi yang mengutamakan pengguna, MEXC menawarkan trading dengan biaya 0 fee serta akses ke lebih dari 3.000 aset digital. Sebagai Gateway to Infinite Opportunities, MEXC menyediakan satu platform tempat pengguna dapat dengan mudah memperdagangkan cryptocurrency bersama aset tokenisasi, termasuk saham, ETF, komoditas, dan logam mulia.
MEXC Official Website|
X|
Telegram|
How to Sign Up on MEXC
Untuk pertanyaan media, silakan hubungi tim PR MEXC: media@mexc.com
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Market order, limit order, dan jenis order lainnya memiliki karakteristik serta risiko eksekusi yang berbeda. Isi artikel bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau rekomendasi transaksi. Selalu periksa liquidity, harga, ukuran order, dan kondisi market sebelum melakukan transaksi.
Nikmati token paling trending, airdrop setiap hari, biaya yang sangat rendah, dan likuiditas yang komprehensif
Daftar
