Bursa MEXC: Nikmati token paling tren, airdrop harian, biaya trading terendah di dunia, dan likuiditas lengkap! Daftar sekarang dan klaim Hadiah Selamat Datang hingga 8.000 USDT!   •   Daftar • Bank Indonesia Bahas Pengendalian Stablecoin di Indonesia • Likuiditas Tipis dan Data On‑Chain: Desember Penting untuk Bitcoin • Whale Serap 300J+ MON saat Arthur Hayes Berpindah Aset • Daftar
Bursa MEXC: Nikmati token paling tren, airdrop harian, biaya trading terendah di dunia, dan likuiditas lengkap! Daftar sekarang dan klaim Hadiah Selamat Datang hingga 8.000 USDT!   •   Daftar • Bank Indonesia Bahas Pengendalian Stablecoin di Indonesia • Likuiditas Tipis dan Data On‑Chain: Desember Penting untuk Bitcoin • Whale Serap 300J+ MON saat Arthur Hayes Berpindah Aset • Daftar

Bank Indonesia Bahas Pengendalian Stablecoin di Indonesia

Source : Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa penerbitan Rupiah Digital (CBDC) menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah pesatnya pertumbuhan aset kripto dan stablecoin swasta tanpa regulasi yang jelas.

Pernyataan ini disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Jakarta, Jumat (28/11/2025), yang juga dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Perry, dominasi stablecoin seperti USDT dan USDC dalam transaksi digital lintas negara telah menimbulkan kekhawatiran soal kedaulatan moneter.

“Maraknya uang kripto dan stablecoin pihak swasta serta belum adanya pengaturan dan pengawasan yang jelas, di sinilah perlunya Central Bank Digital Currency,” ujarnya.

Rupiah Digital Jadi Tanggapan atas Dominasi Stablecoin Asing

Rupiah Digital dirancang sebagai bentuk digital resmi dari mata uang nasional, dengan nilai tetap dan jaminan penuh dari Bank Indonesia. Langkah ini diharapkan bisa menekan ketergantungan terhadap stablecoin berbasis dolar.

Dalam roadmap Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, Rupiah Digital menjadi salah satu pilar utama modernisasi ekonomi digital Indonesia.

Roadmap Sistem Pembayaran Indonesia 2030 | Source : BSPI

CBDC ini akan menggabungkan efisiensi teknologi blockchain dengan sistem moneter terpusat yang memastikan transaksi cepat, aman, dan tetap dalam kendali otoritas keuangan domestik.

Lima Risiko Global yang Diwaspadai BI

Perry Warjiyo menyoroti lima risiko utama yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk pengaruh besar dari aset kripto tanpa pengawasan. Berikut penjelasannya:

  1. Aset Kripto dan Stablecoin Tanpa Regulasi
    Pertumbuhan pesat kripto swasta seperti stablecoin dapat mengganggu kebijakan moneter dan menimbulkan risiko sistemik jika tidak diawasi dengan baik.
  2. Kebijakan Tarif Amerika Serikat
    Pengetatan tarif dan kebijakan proteksionis AS bisa menekan perdagangan global dan memperlambat arus modal internasional.
  3. Perlambatan Ekonomi Dunia
    Penurunan permintaan global dan melemahnya konsumsi di negara maju dapat berdampak langsung pada ekspor negara berkembang seperti Indonesia.
  4. Lonjakan Utang Negara Maju
    Kenaikan utang publik di negara-negara besar menambah tekanan terhadap stabilitas keuangan global dan memperburuk risiko krisis fiskal.
  5. Risiko dari Produk Derivatif Keuangan
    Lonjakan aktivitas di pasar derivatif tanpa kontrol ketat dapat memicu krisis likuiditas dan menular ke sektor keuangan tradisional.

Perry menegaskan bahwa BI akan memperkuat regulasi sektor aset digital agar inovasi seperti blockchain dan tokenisasi tetap berkembang tanpa mengancam stabilitas moneter nasional.

CBDC vs Stablecoin, Siapa yang Lebih Andal?

Bank Indonesia menegaskan bahwa Rupiah Digital berbeda dari stablecoin swasta, karena didukung langsung oleh pemerintah dan diawasi penuh oleh otoritas keuangan.

Jika stablecoin mengandalkan cadangan pihak ketiga (seperti perusahaan penerbit), Rupiah Digital sepenuhnya berbasis pada kepercayaan publik terhadap negara dan kebijakan moneter BI.

Dengan pendekatan ini, BI ingin memastikan bahwa transformasi digital tidak mengorbankan stabilitas ekonomi. CBDC juga diharapkan menjadi fondasi bagi sistem pembayaran lintas batas yang lebih transparan dan efisien di masa depan.

Rupiah Digital Jadi Langkah Strategis Hadapi Era Web3

Pembahasan BI soal pengendalian stablecoin dan penerbitan Rupiah Digital menandai babak baru dalam kebijakan moneter Indonesia.

Dengan proyek CBDC ini, BI berupaya menjaga kedaulatan ekonomi nasional sekaligus membuka ruang inovasi keuangan berbasis blockchain yang lebih aman dan terkendali.

Jika terealisasi penuh, Rupiah Digital bisa menjadi penghubung antara sistem keuangan tradisional dan dunia Web3, menjadikan Indonesia pionir di kawasan dalam menghadapi tantangan ekonomi digital global.

Disclaimer

Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi semata. Market kripto bersifat fluktuatif dan berisiko tinggi, nilai aset dapat naik atau turun secara signifikan dalam waktu singkat. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi, dan pastikan memahami risiko dari setiap aset digital yang diperdagangkan.

Bergabung dengan MEXC dan mulai trading hari ini

Daftar